 |
Foto dari instagram @abangdhani |
Enam tahun di SD dibilang kerasa sih "enggak" tapi kalo dibilang ga kerasa ya "kerasa banget". Rasa-rasanya baru aja kemaren nganterin Husna untuk test masuk SD di Sekolah Sahabat Alam Palangka Raya.
Masih teringat waktu test pertama, Husna sedang sakit demam tapi tetap dibelain ikut test bahkan sebelum masuk ruang test harus dikasih penurun panas dulu. Dan hasilnya bisa ditebak, kurang bagus. Beruntung guru disana tidak hanya melihat hasil test tapi juga melihat kondisi anak.
Akhirnya kami ditawarin untuk langsung test lanjutan bersama psikolog beberapa waktu kemudian. Agak sedikit ragu sih ikut test lanjutan karena melihat test awal yang hasilnya kurang bagus apalagi ada biaya tambahan untuk test tersebut. Namun bismillah kami setujui aja. Andaipun belum layak masuk SD (usianya pun masih 6 tahun kala itu) tapi setidaknya kami punya gambaran terhadap anak kami dari hasil test psikologi tersebut.
Qadarullah ternyata hasil psikologinya cukup bagus dengan beberapa catatan beberapa diantaranya adalah perlu dilatih motorik halus dengan latihan berenang atau menari, dan direkomendasikan untuk bisa masuk SD di Sekolah Sahabat Alam Palangka Raya jika bersedia untuk membereskan di latihan renang atau menarinya. Bersyukur banget Husna mau pes berenang hingga akhirnya beneran bisa berenang. Nantinya bisanya dia berenang memudahkan untuk ikut pelajaran renang juga di sekolahnya.
Salah satu bagian berat Husna pada tahun-tahun awal SD adalah sosialisasinya karena kami tahu tipenya Husna adalah orang yang harus deketin dia duluan bukan sebaliknya. Temannya menjadi ga banyak dan sikapnya agak berbeda antara di sekolah dan di rumah. Di sekolah agak pendiam sedangkan aslinya di rumah ga begitu. Masih di kelas 1, camping pertamanya bikin kami deg-degan juga. Maklum lah belum pernah pisah sama orangtuanya.
Akhir kelas 2 sampai awal kelas 4 nya Husna diwarnai dengan "sekolah di rumah". Pandemi COVID-19 bikin kacau seluruh dunia. Anak kami yang tidak terbiasa di depan gadget merasa tidak betah kalo lama di depan komputer untuk ikut kelas online. Kami pun sebagai orangtua harus adaptasi juga dengan Google Classroom yang dipake.
Pindahan sekolah ke lokasi baru sangat berefek besar terhadap Husna. Karena ikut angkot sekolah maka sosialisasinya makin bagus. Apalagi dengan adik-adik kelasnya yang seumuran ataupun lebih muda darinya. Guru kelasnya pun saat kelas 5 menemukan salah satu potensi Husna yaitu suka tampil. Diajakin untuk MC upacara bendera hingga akhirnya nge-MC di acara perpisahan saat kelulusan SD nya.
Oh ya ditengah-tengah periode sekolahnya, Husna pernah tidak hadir selama kurang lebih 1 bulan karena operasi kataraknya dia. Bukan karena lamanya pemulihan tapi karena harus dijaga sepama sebulan untuk tidak loncat-loncat, lari-lari, nunduk-nunduk, yang mana kegiatan begitu hal yang sudah biasa di sekolahnya.
Banyak cerita sekolah yang mungkin terlewat, banyak moment-moment yang tidak bisa diceritakan disini. Yah itulah perjuangan. Perjuangan anak dalam bersekolah dan perjuangan orangtua untuk menunaikan kewajiban terhadap anak.
Kini Husna telah lulus SD, sebelumnya kami sudah bertanya terkait sekolah lanjutannya dan dia pengennya SMP di Sahabat Alam juga. Ya sudah daftar disana lagi.
Akhirnya, terima kasih tak terhingga kepada guru-guru dan semua pihak di Sekolah Sahabat Alam Palangka Raya. Mengambil pantun Husna di video akhir sekolah perpisahan mereka.
Di depan ada batu
Batunya warna hitam
Kalian cari sekolah nomor satu?
Sekolahnya di Sahabat Alam