Sedih, haru, bahagia campur aduk dalam perasaan kami saat kami mengunci pintu rumah ini mungkin untuk yang terakhir kali di sore hari Senin, 16 September 2024. Rumah yang cukup memberi kenangan terhadap kehidupan kami di awal-awal menikah hingga akhir hayat kedua mertuaku.
Tempat ini menjadi saksi bisu pernikahan kami di tahun 2011 silam dan menjadi tempat bertumbuh anak kami hingga berusia 2 tahun 9 bulan.
Menjual rumah juga sama artinya menjual kenangan. Namun kami rasa itu keputusan yang lumayan bagus dibandingkan rumah ini ditinggal sekian lama dan tidak terurus.
Rumah ini sudah mulai ditawarkan untuk dijual tidak lama setelah mertua laki-laki meninggal sebab istri beliau tidak mungkin kami biarkan tinggal disana sendirian jadi kami mengajak beliau untuk ikut bersama kami di kota lain. Jika ada kesempatan kami menengok rumah ini, ada rasa sedih karena terlihat tidak terurus dan semakin lapuk.
Tidak mudah untuk menjual rumah. Semenjak mertua perempuan masih ada hingga beliau meninggal tidak sedikit yang tertarik karena lokasinya cukup strategis namun belum pernah deal harga. Qadarullah belum setahun mertua perempuan meninggal, kami deal dengan harga yang menurut kami cukup murah pada lokasi tersebut dengan pembeli yang sebenarnya sudah ngincer lama.
Dikarenakan sudah deal (dan udh dibayar 70%) maka kami wajib keluarin barang-barang yang ada disana. Banyak barang-barang usang yang harus dibuang atau di-loak-kan namun juga tidak sedikit yang dihibahkan sana-sini.
Setelah beres, istri merekam video suasana dalam rumah untuk yang terakhir kali sambil menangis. Mungkin sedih karena harus hilang kenangan. Beliau juga mengunci pintu serta menyerahkan kuncinya kepada pembelinya.
Selamat tinggal rumah mertua, selamat tinggal kenangan yang nanti akan diceritakan pada generasi selanjutnya dengan diksi "Dulu"