Jumat, 08 November 2024

Teringat Kenangan Semasa SMP

Pada perjalanan dinas (Perjadin) kali ini dengan rangka monitoring kegiatan dan inventarisasi BMN di BKK Palangka Raya Wilayah Kerja (Wilker) Kapuas, aku menginap di salah satu hotel yang tergolong baru di kota itu. Letaknya berseberangan dengan SMP tempat aku menimba ilmu sekitaran antara tahun 1997-1999.

Sekolah SMP ku ini beberapa kali berganti nama (aku lupa persis tahunnya). Sebelum aku masuk disana namanya SMP Negeri 3 Kuala Kapuas terus saat masuk hingga aku lulus namanya adalah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 4 Kuala Kapuas dan ga tau kapan persisnya namanya berubah lagi menjadi SMP Negeri 3 Selat.

Banyak kenangan semasa bersekolah di SMP ini, diantaranya adalah kegiatan memotong rumput lapangan yang dulu sering dilakukan para siswanya sehingga menjadi skill tersendiri. Aku juga ingat dulu sering terlambat karena pagi-pagi harus nganterin es batu ke warung-warung biar punya uang jajan untuk sekolah. Aku juga ingat persis kala itu dari upaya ngantar es batu bisa punya uang jajan antara Rp. 800 hingga Rp. 1.300 yang pada masanya sudah cukup lumayan besar. Jika terlambat seperti ini, hukumannya biasanya mungutin sampah yang berserakan di area sekolah, lapor sama guru piket (sambil membawa sampah yang dipungut), dan membuangnya ke tempat sampah. Tak jarang kalo lagi malas mungutin sampah yang berserakan, aku ngambil sampah yang sudah ada di tempat sampah untuk dilaporkan.

Di sekolah ini dulunya (ga tau sekarang) juga setiap pagi diadakan kegiatan pagi yaitu upacara bendera setiap Hari Senin dan Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) setiap Hari Selasa hingga Hari Sabtu sebelum masuk belajar di kelas. Untuk SKJ ada dispensasi bagi siswa yang piket kebersihan kelas. Banyak sih yang pura-pura piket untuk mengerjakan PR yang kelupaan atau malas mengerjakannya di rumah namun harus disetor pada hari itu atau ada juga yang sekedar malas ikut SKJ. Namun jika ketahuan, siap-siap aja ujung sepatu pantofel mendarat di betis, paha, atau pantat dan itu sudah biasa bagi kami para siswa yang "agak bandel".

Jumlah ruang belajar pada waktu itu ada 6 ruangan untuk setiap kelasnya. Ruang A hingga F yang biasanya ditentukan dari kemampuan siswanya. Aku saat itu berada di kelas 1-A, 2-F, dan 3-F. Kala itu juga, untuk berangkat sekolah para siswa menggunakan sepeda gowes. Setiap harinya garasi sepeda sekolah selalu penuh dengan ratusan sepeda siswa dengan berbagai macam merk, warna, dan jenisnya.

Pada masa ini aku juga merasakan bagaimana rasanya cinta monyet, cinta anak umur belasan. Memendam selama bertahun-tahun dan hanya mampu mengagumi dari kejauhan sebagai "pemuja rahasia".

Sayangnya untuk alat dokumentasi semacam kamera masih belum sebanyak dan semudah sekarang sehingga untuk kenangan berbentuk foto sangat jarang ada. Hanya bisa teringat dalam cerita saja.

0 comments:

Posting Komentar