QS At Taubah: 119

"Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar"

Sabtu, 07 Desember 2024

Perahu Kertas, Cerita Kugy Dan Keenan

Aku baru saja menuntaskan Novel Perahu Kertas yang ditulis oleh Dee. Buku yang telah di-film-kan ini cukup padat ceritanya. Mengisahkan tentang persahabatan empat orang yaitu Kugy, Keenan, Noni, dan Eko (+Fuad). Namun kisah utamanya adalah Kugy dan Keenan. Oh iya, Fuad adalah nama mobilnya Eko yang menemani kisah mereka berempat meskipun sering mogok.

Kugy mempunyai imajinasi yang tinggi. Bercita-cita ingin menjadi Juru Dongeng dan gemar menulis cerita. Imajinasinya terhadap Neptunus juga membuat dia selalu "curhat" kepada Dewa Laut Yunani itu dengan menuliskan sesuatu pada kertas dan melipat kertas tersebut menjadi perahu-perahuan lalu mengirimkannya melalui aliran sungai. Kugy percaya bahwa semua aliran sungai akan berujung ke tempat Neptunus berada yaitu laut.

Lain lagi dengan Keenan. Dia sangat menyukai melukis dan merasa jiwanya ada di sana. Dia tidak memperdulikan keinginan ayahnya yang tidak rela anaknya menjadi pelukis. Belakangan terungkap kenapa alasan ayahnya seperti itu.

Persahabatan mereka terganjal karena beberapa peristiwa yang sebenarnya adalah gara-gara Kugy dan Keenan yang saling suka tapi tidak mampu mengungkapkan rasa. Awalnya muncul sosok Wanda sepupunya Noni yang mau di-comblangi ke Keenan. Lalu muncul tokoh-tokoh lain seperti Luhde dan Remi yang membuat cerita naksir-naksiran ini semakin ruwet.

Konflik-konflik tak terhindarkan hingga akhirnya konflik itu terselesaikan satu-persatu.

Buku ini ditulis sudah cukup lama, bahkan filmnya sudah tayang kurang lebih 10 tahun yang lalu. Proses penulisan buku ini pun diceritakan penulis di akhir bukunya.

Tersedia di Google PlayBook

Tersedia di iPusnas tapi ngantri yaa

Pendapat pribadi aku tentang buku ini ya seru walaupun aku cukup bisa menebak akhir ceritanya seperti apa namun alur-alur konfliknya menarik untuk dibaca. Aku baca ini di versi digitalnya. Jika pembaca ingin membacanya juga bisa membeli di toko-toko terdekat (semoga masih ada), meminjam di perpustakaan setempat (semoga juga tersedia), atau bisa juga membeli versi digitalnya di Google PlayBook atau kalo ga mau beli beli bisa meminjam versi digitalnya di iPusnas (tapi terakhir cek sih harus antri).

Senin, 02 Desember 2024

Tujuh Tahun "Itah Hadari"

Itah Hadari, sebuah tagline yang artinya "kita berlari" cukup dikenal di Palangka Raya saat ini khususnya para penggiat lari. Tagline ini diadopsi menjadi sebuah komunitas berlari pertama di Kota Cantik ini yaitu Palangka Runners. Tapi itu sekarang, tujuh tahun yang lalu kami awali langkah dengan sebuah impian sederhana yaitu pengen berlari, kumpul, berbagi ilmu tentang pelarian bersama di kawasan Jalan Katamso.


Tujuh tahun yang lalu, olahraga lari belum terlalu diminati seperti sekarang ini. Kawasan Jalan Katamso memang sudah dijadikan tempat untuk lari tapi ga banyak yg berolahraga disana. Aku yang berminat pada olahraga ini mulai mencari-cari komunitasnya di Palangka Raya karena udah mupeng kepengen ikut berkomunitas gara-gara ngeliat postingan-postingan komunitas lari luar kota di sosial media. Namun ternyata pencarian nihil. Bukan karena ga ketemu tapi memang belum ada.

Ga tau bagaimana algoritma hidup ini sampai akhirnya aku dipertemukan dengan Muhammad Asary (dipanggil Aan). Ya udah ajakan diterima tapi ternyata misinya bukan lari bareng aja tapi juga mau bikin komunitas. Bertemu orang baru terus langsung diajakin membangun komunitas itu sebuah pengalaman aneh bagiku.

Muhammad Asary. Founder Palangka Runners

Awal terbentuk kami buat akun instagram @palangka_runners yang alhamdulillah masih aktif sampai sekarang. Tujuannya buat kasih tau ke penggiat lari kalo sudah ada komunitasnya di Palangka Raya. Kami coba posting beberapa dan sharing sebanyak-banyaknya.

Beberapa waktu kemudian akhirnya ada yang bergabung, banyak diantaranya adalah anak-anak gaul yang ga bisa lari. Ya benar, saat diajakin lari 100-200 meter udah pada nyerah. "Bang tungguin!", begitu mereka bilang. Tapi dari anak-anak yang ga bisa lari itulah cikal-bakal komunitas ini berkembang pesat. Layaknya mencoba hal baru, jiwa muda mereka menggebu-gebu kepengen terus berlari dan berkomunitas.

Namun tentu saja dari anggota-anggota baru itu ada juga yang sudah terbiasa lari bahkan sudah pernah berkomunitas. Ada Abdul Janah (dipanggil Abdul apa Janah ni?) ada juga Yuan (orang Malang yang sedang terdampar di Palangka Raya), Alvin, Alfan, dan beberapa lagi yang aku mulai lupa namanya. Dari orang-orang ini dan dibantu beberapa yang lain kami mulai mengelola komunitas ini mulai dari bikin jadwal lari bareng, berafiliasi dengan Indorunners hingga bikin jersey komunitas.


Jersey Pertama Palangka Runners

Kepengurusan waktu itu suka-suka kami aja. Ada ketua, kapten, dan yang lainnya membantu. Ketua pertama ditunjuklah aku. Ah ini kayaknya sekedar menghormati aku aja karena jadi salah satu pendirinya. Kapten dipilihlah Alvin. Untuk menggerakkan kegiatan komunitas sedangkan ketua tugasnya lebih kepada penengah aja kalo anak-anak muda ini berantem hehe...

Rekrutmennya adalah dengan getok-tular. Yang udah ikutan harus ngajakin temannya yang lain. "Ga bisa lari", justru suatu kata yang ditunggu dengan jawaban simpel, "sama.. yang penting rame-ramean dulu aja".


Awal-awal Palangka Runners Berlari

Aktifitas komunitas pun berjalan, yang ga bisa lari waktu itupun sudah mulai bisa lari. Hingga 1 tahun pertama bisa dilalui. Event 1st Anniversary Palangka Runners digelar cukup sukses. Jumlah peminatnya? Cukup banyak waktu itu namun tidak sebanyak saat ini kalo bikin event lari.

Kepengurusan komunitas mulai berkembang makin dewasa. Tidak ada lagi yang namanya ketua (apalagi ketua yang ga kerja kayak aku wkkk). Adanya Captain dan Co-captain. Aku sudah agak sedikit lupa urutan siapa aja yang menjabat. Seingatku Alvin terus Mukhlis terus berlanjut yang lainnya dibantu oleh teman-teman yang juga membersamai sejak Palangka Runners muda berdiri.



Anggota komunitasnya beranjak mulai keren-keren. Ada yang ikut event sana-sini, sepatu lari udah pada tau, baju celana kacamata jam udah pada teracuni hehe. Aku udah kalah keren sekarang.

Seiring berjalannya waktu, tanggungjawab di pekerjaan, keluarga, dan kehidupan pribadi aku makin besar. Akupun memutuskan untuk pelan-pelan undur diri dari komunitas ini. Meskipun aku udah ga disana, dengan telah mulai dewasanya Palangka Runners membuat komunitas ini masih tetap berlari hingga sekarang di tahun ketujuh.

Minggu, 01 Desember 2024

Keajaiban Toko Kelontong Namiya

Berselancar di sosial media khususnya pada circle pembaca buku akan dapat rekomendasi-rekomendasi buku menarik. Salah satu buku yang menarik bagiku adalah novel "Keajaiban Toko Kelontong Namiya".

Novel yang aslinya ber-Bahasa Jepang berjudul Namiya Zakkaten No Kiseki ini, dikarang oleh Keigo Higashino. Dipublikasikan pertama kali di Jepang pada Tahun 2012 dan di-alihbahasa-kan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Faira Ammadea. Novel ini memiliki alur maju-mundur. 


Pada novel yang dicetak oleh PT. Gramedia ini terdiri dari lima bab atau lima cerita yang mana setiap ceritanya seakan tidak nyambung namun ternyata kejeniusan penulis memainkan sudut pandang pembaca yang akhirnya ceritanya bisa nyambung atau terdapat benang-merahnya. Cerita besarnya adalah Toko Kelontong Namiya menerima jasa konsultasi melalui surat. Pertanyaan atau permintaan saran melalui surat itu akan dibalas oleh Toko Kelontong Namiya keesokan harinya.

Sedikit aku spill cerita apa aja dalam tiap bab-nya biar ada gambaran sedikit tentang isi novelnya ini.

Bab 1, menceritakan tentang tiga orang anak nakal yang sedang bersembunyi selepas melakukan kejahatan pada malam hari di toko kelontong ini. Sambil menunggu pagi, ada keajaiban terjadi di dalam toko tersebut.

Bab 2, menceritakan tentang seseorang yang bingung memilih antara meneruskan toko ikan keluarganya atau mengejar cita-citanya untuk menjadi musisi. Dia juga meminta saran kepada Toko Kelontong Namiya untuk nanti akhirnya memutuskan apa yang harus dipilihnya.

Bab 3, menceritakan tentang kisah hidup Kakek Namiya, tokoh yang membalas surat-surat untuk Toko Kelontong Namiya serta bagaimana keajaiban itu terjadi.

Bab 4, menceritakan tentang sebuah keluarga yang memiliki kesulitan ekonomi sehingga harus mengambil keputusan besar dalam kehidupan mereka. Sang anak dari keluarga tersebut meminta saran kepada Toko Kelontong Namiya terkait apakah dia ikut keputusan keluarganya atau malah harus meninggalkannya. Keputusan diambil dan cerita pun berlanjut.

Bab 5, menceritakan tentang seorang wanita yang galau karena bekerja sebagai hostes untuk memenuhi kebutuhannya. Ada seorang pria yang "tertarik" dengannya. Dalam kebingungannya wanita ini berkonsultasi dengan Toko Kelontong Namiya melalui surat. Saran dari Toko Kelontong Namiya dia ikuti dan akhirnya menjadi wanita yang sukses secara finansial. Karena ini adalah bab terakhir maka diakhir cerita ada sebuah benang merah yang menghubungkan dengan keempat bab sebelumnya.

Jujur, novel ini awalnya agak susah untuk aku ikuti karena alurnya yang maju-mundur serta aneh aja saat pindah dari Bab 1 ke Bab 2 sebab ceritanya kok ga nyambung tapi setelah dilanjutkan membacanya akhirnya kata "Oooo..." ternyata begini. Nah karena sudah tau karakteristik novelnya maka bab-bab selanjutnya cukup aman untuk dibaca.

Kata "Keren" mungkin tidak salah kalo secara subjektif aku sematkan pada penulis novel ini. Keren alurnya meskipun aku perlu agak harus lebih fokus dalam memahami isi ceritanya.

Bagi pembaca yang ingin membaca novel ini bisa membeli versi digital-nya di Gramedia Digital atau meminjam di iPusnas atau bisa ke perpustakaan terdekat siapa tau ada koleksinya. Selamat membaca.